Kisah Perjalanan Saudara Kita Seiman Dalam Pelayanan Keluar Negeri (United States)

Avatar photo

PARA MALAIKAT ITU

(Remah-remah cerita perjalanan pelayanan ke US)

Ini adalah kisah perjalanan pertama kami ke negeri jauh, negeri yang selama ini hanya kami kenal lewat cerita dan layar kaca—negeri Uncle Sam. Berdua saja, suami isteri, melangkah dengan informasi yang terbatas tentang Amerika, juga tentang para hamba Tuhan GPdI yang hendak kami kunjungi. Namun di tengah ketidakpastian itulah kami menyaksikan karya Tuhan. Ia tidak pernah membiarkan kami berjalan sendiri. Ia mengirimkan orang-orang yang hadir bagai malaikat—bukan bersayap, bukan bercahaya, namun nyata dalam perhatian, pengorbanan, dan kasih yang mereka bagi.

Malaikat Pertama: Recky Soedjak dan Angie

Di Cherry Valley County, San Bernardino, Tuhan menempatkan Recky dan isterinya, Angie. Reckylah yang pertama kali muncul sebagai jawaban doa kami, yang menjemput kami di Tom Bradley Airport pada kedatangan pertama di Amerika.

Ia pula yang menjemput saat kami terbang dari Newark ke Los Angeles, bahkan mengantar sampai bandara yang sama ketika tiba waktunya kami pulang ke Jakarta.

Tak terhitung waktu, tenaga, bahkan dana yang mereka persembahkan—semua dilakukan dengan sukacita. Pintu rumah mereka terbuka menjadi tempat peristirahatan kami. Dalam kehangatan itu, kami merasakan rumah di tanah yang jauh.

Malaikat Kedua: Herry Hanwari dan Angel

Di Phoenix, Arizona—negara bagian yang panas, namun di tangan Tuhan menjadi tempat sejuk bagi jiwa kami—Herry dan isterinya, Angel, menerima kami seperti orang tua mereka sendiri.

Herry bersama putranya, Devan, menjemput kami dengan mobil dari California. Satu minggu kami tinggal di rumah mereka, beristirahat dalam pelukan kasih keluarga besar.

Mereka, yang adalah kakak dan kakak ipar dari Yoel dan Febe, membawa kami menjelajah keindahan Sedona dan Red Rock. Di tengah gurun yang tandus, kasih mereka menjadi oasis yang menguatkan.

Malaikat Ketiga: Belly Mawuntu dan Angel

Di Winston Salem, North Carolina, Tuhan sudah lebih dahulu menyiapkan pasangan gembala, Belly Mawuntu dan isterinya, Angel.

Kami belum pernah mengenal mereka sebelumnya, namun sambutan yang mereka berikan terasa begitu tulus dan tanpa syarat. Mereka menjemput di bandara Greensboro—perjalanan sekitar 35 menit—dan menyediakan kamar sederhana namun sangat nyaman.

Mereka mempercayakan mimbar jemaat mereka kepada kami, dan dengan setia pula mengantar kami kembali ke bandara saat kami harus melanjutkan perjalanan ke New Hampshire.

Malaikat Keempat: Johny Rengkung dan Vivi

Di Boston, malaikat berikutnya bernama Johny dan isterinya, Vivi.

Johny menjemput kami dan membawa kami ke rumah mereka di Rochester, tempat kami tinggal selama sembilan hari.

Rumah mereka kami rasakan sebagai tempat perlindungan—kamar yang nyaman, dapur yang selalu terbuka untuk kami gunakan, meski mereka sibuk bekerja.

Saat hari libur tiba, mereka meluangkan waktu untuk membawa kami melihat keagungan Niagara Falls. Johny pula yang mengantar kami ke New York untuk pelayanan selanjutnya.

Dalam kesibukan hidup mereka, tetap ada ruang bagi kami—itulah anugerah Tuhan yang kami lihat.

Malaikat Kelima: Donald dan Seifi Mawuntu

Di Dover, Tuhan kembali mengulurkan tangan-Nya melalui Donald dan Seifi Mawuntu, gembala GPdI Harvest Church.

Seperti saudara mereka, Belly, pasangan ini menyambut kami dengan keramahan yang hangat dan penuh persaudaraan.

Selama di Dover, Tuhan mempercayakan setidaknya enam kebaktian untuk kami layani. Di balik setiap jadwal, ada uluran tangan mereka yang menopang, mendoakan, dan memudahkan segala sesuatu.

Malaikat Keenam: Dedi dan Isterinya

Di New Jersey, Tuhan mengirimkan malaikat lain: Dedi dan isterinya—pelayan Tuhan yang setia di GPdI New Jersey.

Mereka bukan gembala, tetapi tangan kanan gembala mereka, Ps. Polke Koyongian.

Mereka menemani kami makan, mengantar dan menjemput dari hotel, hingga akhirnya mengantar ke bandara Newark.

Yang membuat kami terharu, bahkan biaya hotel pun mereka tanggung dengan sukacita yang tulus, tanpa keluhan, tanpa pamrih.

Malaikat Tak Bernama di Bandara Taoyuan

Dan baru kami ingat—sebenarnya malaikat pertama dalam perjalanan ini muncul bahkan sebelum kaki kami menginjak tanah Amerika.

Di bandara Taoyuan, Taiwan, seorang ibu asal Indonesia memerhatikan kami yang kebingungan karena debit card mendadak tidak dapat digunakan, sementara semua transaksi hanya bisa non-cash.

Tanpa ragu ia membelikan makanan dan minuman untuk kami. Jika bukan karena ibu itu, kami akan melewati jam-jam panjang di bandara dengan perut kosong.

Tuhan mengirimkan bantuan-Nya tepat pada waktu-Nya, bahkan melalui orang asing yang tidak sempat kami tanyakan namanya.

Para malaikat ini—dengan segala kebaikan, kepedulian, dan pengorbanan mereka—menjadi jembatan kasih Tuhan bagi kami. Melalui mereka, kami melihat bahwa kebaikan Tuhan tidak pernah datang sendirian; ia datang berlapis-lapis, tak habis-habisnya, muncul di tempat yang tidak kami duga, melalui orang-orang yang bahkan belum kami kenal.

Perjalanan pelayanan ini adalah perjalanan penuh kejutan kasih Tuhan—kejutan yang membuat hati kami menunduk dalam syukur dan mata kami basah oleh kesadaran bahwa Tuhan memeluk kami melalui manusia-manusia pilihan-Nya.

(Dalam pesawat United Airlines, Boeing 787–8/9, 15 September 2025, dalam penerbangan dari Newark ke LAX, di langit antara Kansas City dan Omaha) ***

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *